SALAM…
Dua artikel tentang ketuhanan ini kami sampaikan sebagai
pembuka apa dan kenapa blog ini diterbitkan. Artikel ini pernah dimuat
di blog rekan kami tercinta http://www.sabdalangit.wordpress.com.
wong alus Berkata
April 22, 2009 pada 10:13 pm
Mau urun rembuk para kadang blog ingkan sugih ngelmu lan winasis…
Meneruskan
diskusi tentang Tuhan ,…. Yang pertama yang perlu digarisbawahi adalah:
Tuhan adalah Tuhan. Tuhan bebas definisi, karena yang dinamakan
definisi adalah pembatasan bahasa manusia. Tuhan Yang Tidak
Terdefinisikan tersebut adalah “Das Umgreifende” (Karl Jaspers) yang
berada di luar sekaligus di dalam batas-batas kesadaran –yang berawal
dari pengalaman indera, rasio budi manusia itu sendiri. Ia bisa dialami
dengan semua alat epistemologis manusia, Insya Allah…
Okelah,
kita semua sepakat bahwa Tuhan adalah Causa Prima (Aristoteles), sebab
yang tidak disebabkan lagi, sebuah asas Tunggal yang paling awal sebagai
“dasar” dimana semua bergantung –Dia adalah substansi, esensi, hakekat:
(sub — stare: berada di “bawah” sebagai dasar kenyataan). Ini, menurut
saya, hanyalah setetes bahasa manusia dari samudera Ketuhanan yang bisa
dicerap oleh akal budi manusia. Ide tentang Tuhan ini tak akan pernah
selesai untuk dibahasakan, dirumuskan, dihayati.
Tuhan pada
dirinya sendiri (das Ding an Sich) bukanlah Tuhan yang tertutup oleh
tembok pengetahuan sekaligus kesadaran manusia, lho. Tuhan sangat
terbuka untuk diketahui oleh setiap Makhluk (das Ding fur Mich) atau ada
untuk diriku. Tuhan tidak misterius seperti maling yang menghilang
setelah dia meninggalkan jejak karya. Lihatlah dengan kesadaran langit
dan lautan…. itulah karya Tuhan, lihatlah si kere dan gila di ujung gang
becek… itulah karya Tuhan, lihatlah anjing kotor busuk…itulah karya
Tuhan… Karya Tuhan ada dimana-mana dan kapanpun kita selalu melihat-Nya.
Ingat Tuhan tidak pemalu seperti manusia yang malu-maluin lho!
Apakah
perlu mempertanyakan bagaimana wujud Tuhan? Wujud bukanlah dzat
sebagaimana ilmu kimia mendefinisikan dzat cair, padat dan uap. Tuhan ya
Tuhan. Dia tidak perlu ditanyakan wujudnya seperti apa. Karena Tuhan
sudah jelas dengan sendirinya…(Seperti kita melihat mata kita sendiri
dan dia tidak berjarak dengan kita?) maka Dia Jelas tanpa hijab apapun
dan justeru karena kita menumpuk-numpuk pengetahuan yang salah maka
akhirnya kita terpenjara oleh pengetahuan kita sendiri. Lantas apakah
ada beda antara Tuhan sebagai Sang Pencipta dengan Makluk sebagai
Ciptaan-Nya? Tidak ada dualisme. Tuhan adalah segala-galanya, yang awal
yang akhir, yang dhohir dan yang batin. Yang dhohir bisa dilihat dengan
panca indera sebagaimana yang tadi telah disampaikan. Yang batin bisa
dirasakan eksistensinya. Tuhan dan alam semesta, Pencipta dan Ciptaan
itu satu. Satu untuk semua–semua untuk satu.
Maka, pada satu
terminal pencarian dan laku spiritual akan sangat bijaksana bila kita
mengadakan revolusi cara berpikir kita. Sehingga cukup beralasan untuk
berhenti beranggapan bahwa Tuhan yang jauh di langit ketujuh yang
jaraknya ratusan bahkan ribuan triliun kilometer di atas sana. Tuhan itu
ya berada dimana-mana dan tidak kemana-mana (dalam ruang dan waktu)
oleh sebab itu kita semua inilah Tuhan. Biarlah Tuhan saja yang mencari
dan melihat kita karena kita adalah Tuhan juga. Alhamdulillah…Ini
sekaligus untuk memberi jawaban yang menanyakan apakah Tuhan berwujud
kongkret dan bisa disaksikan dengan mata wadag. Jawabannya jelas. Yaitu
bahwa Tuhan bisa dilihat dengan mata wadag manusia dan juga bisa
dirasakan (kata Mas sabda: analoginya seperti getaran setrum listrik).
Bukankah kita semua detik ini sedang berhadapan dan melihat Tuhan? dan
seterusnya-dan seterusnya….
*(Hmmm…ini juga mendefinisikan Tuhan
juga lho, jadi mohon dikoreksi karena saya juga terjebak juga untuk
mendefinisikan Tuhan secara serampangan)
Salam panta rhei
wong alus
wong alus Berkata
April 23, 2009 pada 2:28 pm
“Saving
Madness.. drawing near to God” begitu Plato pernah bilang saat
menyaksikan orang gila pada suatu pagi. Kegilaan yang dimaksud beliau
pasti bukan hilangnya kesadaran, melainkan sebaliknya sebuah kesadaran
yang sudah tertinggi dan paripurna. Kesadaran menerobos tembus
(Taddabbur) Ilahi..
Benar Mas Sabda. Melihat Tuhan tidak sama
dengan melihat obyek yang berada di luar diri kita sebagai subyek. Sebab
Tuhan itu Mata, Telinga, Mulut kita sendiri. Bagaimana kita bisa
melihat mata mulut dan telinga kita sendiri?? pasti dengan kaca,
refleksi dan CITRA. Maka manusia butuh CITRA ILAHI (IMAGO DEI untuk
melihat Tuhan yang sejatinya adalah AKU kita.
Sehingga rumusannya
menjadi sbb: Tataran makrifat: Tuhan itu subyek (aku) yang melihat
obyek (engkau) dan tidak menDia-kanNya lagi (tataran Syariat) sehingga
transendensinya menjadi “kita semua” TARAF SUPRA MAKRIFAT.
Namun
yang perlu kita cermati bersama: Sebuah ayat di Kitab Suci saat
menggambarkan sejarah Adam di Surga: KATA ADAM: Semua sujud kepadaku
kecuali satu malaikat cerdas yang tak lain si Iblis. Lantas dimana
Iblis/setan? Logikanya bila Semua (tanpa Adam) sujud kepadaKU (adam)
kecuali siapa??? Adam sendiri… sehingga setan/Iblis berada dalam adam
(Aku). Tidak diluar diri kita///
Monggo dilanjut. Matur suwun bisa diskusi tentang soal-soal yang seurious hehe… wass…
Wong Alus
Home »Unlabelled » TUHAN ITU AKU TAPI AKU BUKAN TUHAN
{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }
Posting Komentar